Hendra

Network and Security Computing

13 April 2009

Proteksi Network Security Internet dengan Konsep Mekanisme Perlindungan Firewall

Ibarat sebuah rumah yang memiliki pagar sebagai pelindungnya, baik dari kayu, tembok beton, kawat berduri ataupun kombinasi beberapa jenis pagar, maka tidak pula mengherankan apabila sebuah computer yang merupakan sebuah tempat vital dalam komunikasi data yang menyimpan semua harta dan benda yang kita miliki patut kita lindungi. Tetapi, apa pula jenis pagar yang kan kita pakai untuk membentengi komputer/ network pribadi kita terhadap semua ancaman khususnya dari luar terhadap semua propety pribadi kita yang terdapat didalamya? Pernah dengar istilah Tembok Api? Sedikit terdengar lucu apabila diartikan persuku kata dari kata “Firewall”. Tetapi apa dan bagaimanakah Firewall itulah yang akan dibahas./div>

Firewall merupakan suatu cara atau mekanisme yang diterapkan baik terhadap hardware, software ataupun sistem itu sendiri dengan tujuan untuk melindungi, baik dengan menyaring, membatasi atau bahkan menolak suatu atau semua hubungan/kegiatan suatu segmen pada network pribadi dengan network luar yang bukan merupakan ruang lingkupnya. Segmen tersebut dapat merupakan sebuah workstation, server, router, atau local area network (LAN).

Firewall untuk komputer, pertama kali dilakukan dengan menggunakan prinsip “non-routing” pada sebuah Unix host yang menggunakan 2 buah network interface card, network interface card yang pertama di hubungkan ke internet (netwrok lain) sedangkan yang lainnya dihubungkan ke pc (jaringan lokal) (dengan catatan tidak terjadi “route” antara kedua network interface card di Personal Computer ini). Untuk dapat terkoneksi dengan Internet (Network lain) maka harus memasuki server Firewall (bisa secara remote, atau langsung), kemudian menggunakan resource yang ada pada komputer untuk berhubungan dengan Internet (Network lain), apabila perlu untuk menyimpan file/data maka dapat meletakkannya sementara di PC Firewall, kemudian mengkopikannya ke Personal Computer (Network lokal). Sehingga internet (jaringan luar) tidak dapat berhubungan langsung dengan Personal Computer (Network lokal). Dikarenakan masih terlalu banyak kekurangan dari metoda ini, sehingga dikembangkan berbagai bentuk, konfigurasi dan jenis Firewall dengan berbagai policy didalamnya. Firewall secara umum di peruntukkan untuk melayani Mesin/Komputer dan Network.

Setiap mesin/komputer yang terhubung langsung ke Network luar atau internet dan menginginkan semua yang terdapat pada komputernya terlindungi. Network Komputer yang terdiri lebih dari satu buah komputer dan berbagai jenis topologi jaringan yang digunakan, baik yang di miliki oleh perusahaan, organisasi dsb.

Karakteristik Sebuah Firewall
Seluruh hubungan/kegiatan dari dalam ke luar, harus melewati Firewall. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memblok/membatasi baik secara fisik semua akses terhadap jaringan Lokal, kecuali melewati Firewall. Banyak sekali bentuk Network yang memungkinkan agar konfigurasi ini terwujud.

Hanya Kegiatan yang terdaftar/dikenal yang dapat melewati/melakukan hubungan, hal ini dapat dilakukan dengan mengatur policy pada konfigurasi keamanan lokal. Banyak sekali jenis Firewall yang dapat dipilih sekaligus berbagai jenis policy yang ditawarkan. Firewall itu sendiri haruslah kebal atau relatif kuat terhadap serangan/kelemahan. Hal ini berarti penggunaan sistem yang dapat dipercaya dan dengan system yang relatif aman.

Teknik yang digunakan oleh Firewall
Service control (kendali terhadap layanan) berdasarkan tipe-tipe layanan yang digunakan di Internet dan boleh diakses baik untuk kedalam ataupun keluar Firewall. Biasanya Firewall akan mencek no IP Address dan juga nomor port yang di gunakan baik pada protokol TCP dan UDP, bahkan bisa dilengkapi software untuk proxy yang akan menerima dan menterjemahkan setiap permintaan akan suatu layanan sebelum mengijinkannya. Bahkan bisa jadi software pada server itu sendiri seperti layanan untuk web ataupun untuk mail. Direction Control (kendali terhadap arah) berdasarkan arah dari berbagai permintaan (request) terhadap layanan yang akan dikenali dan diijinkan melewati Firewall. User control (kendali terhadap pengguna) berdasarkan pengguna/user untuk dapat menjalankan suatu layanan, artinya ada user yang dapat dan ada yang tidak dapat menjalankan suatu service, hal ini di karenakan user tersebut tidak di ijinkan untuk melewati Firewall. Biasanya digunakan untuk membatasi user dari jaringan lokal untuk mengakses keluar, tetapi bisa juga diterapkan untuk membatasi terhadap pengguna dari luar.

Behavior Control (kendali terhadap perlakuan) berdasarkan seberapa banyak layanan itu telah digunakan. Misal, Firewall dapat memfilter email untuk menanggulangi/mencegah spam.

Packet Filtering Router
Packet Filtering diaplikasikan dengan cara mengatur semua packet IP baik yang menuju, melewati atau akan dituju oleh packet tersebut. Pada tipe ini packet tersebut akan diatur apakah akan di terima dan diteruskan atau di tolak. Penyaringan packet ini di konfigurasikan untuk menyaring packet yang akan di transfer secara dua arah (baik dari dan ke jaringan lokal). Aturan penyaringan didasarkan pada header IP dan transport header, termasuk juga alamat awal (IP) dan alamat tujuan (IP), protokol transport yang di gunakan(UDP,TCP), serta nomor port yang digunakan. Kelebihan dari tipe ini adalah mudah untuk di implementasikan, transparan untuk pemakai, relatif lebih cepat. Adapun kelemahannya adalah cukup rumitnya untuk menyetting paket yang akan difilter secara tepat, serta lemah dalam hal authentikasi.

Serangan yang dapat terjadi pada Firewall dengan tipe ini yaitu IP address spoofing. Intruder (penyusup) dari luar dapat melakukan ini dengan cara menyertakan/menggunakan IP address Network lokal yang telah diijinkan untuk melalui Firewall. Source routing attacks : Tipe ini tidak menganalisa informasi routing sumber IP, sehingga memungkinkan untuk membypass Firewall. Tiny Fragment attacks : Intruder membagi IP kedalam bagian-bagian (fragment) yang lebih kecil dan memaksa terbaginya informasi mengenai TCP header. Serangan jenis ini di design untuk menipu aturan penyaringan yang bergantung kepada informasi dari TCP header. Penyerang berharap hanya bagian (fragment) pertama saja yang akan di periksa dan sisanya akan bisa lewat dengan bebas. Hal ini dapat di tanggulangi dengan cara menolak semua packet dengan protokol TCP dan memiliki Offset = 1 pada IP fragment (bagian IP).

Application-Level Gateway
Application-level Gateway yang biasa juga di kenal sebagai proxy server yang berfungsi untuk memperkuat/menyalurkan arus aplikasi. Tipe ini akan mengatur semua hubungan yang menggunakan layer aplikasi , baik itu FTP, HTTP, GOPHER dll. Cara kerjanya adalah apabila ada pengguna yang menggunakan salah satu aplikasi semisal FTP untuk mengakses secara remote, maka gateway akan meminta user memasukkan alamat remote host yang akan di akses. Saat pengguna mengirimkan user ID serta informasi lainnya yang sesuai maka gateway akan melakukan hubungan terhadap aplikasi tersebut yang terdapat pada remote host, dan menyalurkan data diantara kedua titik. apabila data tersebut tidak sesuai maka Firewall tidak akan meneruskan data tersebut atau menolaknya. Lebih jauh lagi, pada tipe ini Firewall dapat di konfigurasikan untuk hanya mendukung beberapa aplikasi saja dan menolak aplikasi lainnya untuk melewati Firewall. Kelebihannya adalah relatif lebih aman daripada tipe packet filtering router lebih mudah untuk memeriksa (audit) dan mendata (log) semua aliran data yang masuk pada level aplikasi. Kekurangannya adalah pemrosesan tambahan yang berlebih pada setiap hubungan. yang akan mengakibatkan terdapat dua buah sambungan koneksi antara pemakai dan gateway, dimana gateway akan memeriksa dan meneruskan semua arus dari dua arah.

Circuit-level Gateway
Tipe ketiga ini dapat merupakan sistem yang berdiri sendiri , atau juga dapat merupakan fungsi khusus yang terbentuk dari tipe application-level gateway. Tipe ini tidak mengijinkan koneksi TCP end to end (langsung). Cara kerjanya Gateway akan mengatur kedua hubungan tcp tersebut, 1 antara dirinya dengan TCP pada pengguna lokal (inner host) serta 1 lagi antara dirinya (gw) dengan TCP pengguna luar (outside host). Saat dua buah hubungan terlaksana, gateway akan menyalurkan TCP segment dari satu hubungan ke lainnya tanpa memeriksa isinya. Fungsi pengamanannya terletak pada penentuan hubungan mana yang di ijinkan. Penggunaan tipe ini biasanya dikarenakan administrator percaya dengan pengguna internal (internal users).

Network layer Firewalls
Tipe ini membuat keputusan berdasarkan source address, destination address dan ports yang terdapat dalam paket IP. Router sederhana merupakan network layer Firewall tradisional, tipe ini tidak mampu untuk membuat keputusan yang kompleks mengenai paket. Network layer Firewall modern lebih pintar dari pendahulunya dan mampu membuat kepututusan yang kompleks mengenai aliran data yang melewatinya setiap saat.

Application layer Firewalls
Pada umumnya Firewall tipe ini adalah host yang menjalankan aplikasi proxy servers, yang tidak mengijinkan traffic langsung antara networks, yang juga memeriksa logg dan traffic yang melalui host ini. Karena aplikasi proxy adalah software sederhana yang berjalan pada Firewall, ini adalah cara yang bagus untuk melakukan logging dan kontrol akses. Application layer Firewall dapat pula difungsikan sebagai network address translators, karena traffic masuk dari satu sisi dan keluar di sisi lainnya searah, kemudian apliakasi ini dapat me-masukik oneksi original.

Konfigurasi Firewall
Screened Host Firewall system (single-homed bastion)
Pada konfigurasi ini, fungsi Firewall akan dilakukan oleh packet filtering router dan bastion host*. Router ini dikonfigurasikan sedemikian sehingga untuk semua arus data dari Internet, hanya paket IP yang menuju bastion host yang di ijinkan. Sedangkan untuk arus data (traffic) dari Network internal, hanya paket IP dari bastion host yang di ijinkan untuk keluar. Konfigurasi ini mendukung fleksibilitas dalam Akses internet secara langsung, sebagai contoh apabila terdapat web server pada jaringan ini maka dapat di konfigurasikan agar web server dapat diakses langsung dari internet. Bastion Host melakukan fungsi Authentikasi dan fungsi sebagai proxy. Konfigurasi ini memberikan tingkat keamanan yang lebih baik daripada packet-filtering router atau application-level gateway secara terpisah.

Screened Host Firewall system (Dual-homed bastion)
Pada konfigurasi ini, secara fisik akan terdapat patahan/celah dalam Network. Kelebihannya adalah dengan adanya dua jalur yang meisahkan secara fisik maka akan lebih meningkatkan keamanan dibanding konfigurasi pertama, adapun untuk server-server yang memerlukan direct akses (akses langsung) maka dapat di letakkan ditempat/segment yang langsung berhubungan dengan internet. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menggunakan 2 buah NIC (network interface card) pada bastion Host.

Screened subnet Firewall
Ini merupakan konfigurasi yang paling tinggi tingkat keamanannya. Pada konfigurasi ini di gunakan 2 buah packet filtering router, 1 diantara internet dan bastion host, sedangkan 1 lagi diantara bastian host dan Network local konfigurasi ini membentuk subnet yang terisolasi. Adapun kelebihannya yaitu terdapat 3 lapisan/tingkat pertahanan terhadap penyusup/intruder. Router luar hanya melayani hubungan antara internet dan bastion host sehingga jaringan local menjadi tak terlihat (invisible). Jaringan lokal tidak dapat mengkonstuksi routing langsung ke internet, atau dengan kata lain, Internet menjadi Invinsible (bukan berarti tidak bisa melakukan koneksi internet).

Langkah-langkah membangun Firewall
Mengidenftifikasi bentuk jaringan yang dimiliki dan mengetahui bentuk jaringan yang dimiliki khususnya toplogi yang di gunakan serta protocol jaringan, akan memudahkan dalam mendesain sebuah Firewall. Penentuan Kebijakan atau Policy merupakan hal yang harus di lakukan, baik atau buruknya sebuah Firewall yang di bangun sangat di tentukan oleh policy/kebijakan yang di terapkan. Menentukan apa saja yang perlu di layani. Artinya, apa saja yang akan dikenai policy atau kebijakan yang akan kita buat. Menentukan individu atau kelompok-kelompok yang akan dikenakan policy atau kebijakan tersebut. Menentukan layanan-layanan yang dibutuhkan oleh tiap tiap individu atau kelompok yang menggunakan Network. Berdasarkan setiap layanan yang di gunakan oleh individu atau kelompok tersebut akan ditentukan bagaimana konfigurasi terbaik yang akan membuatnya semakin aman. Menerapkankan semua policy atau kebijakan tersebut.

Menyiapkan Software atau Hardware yang akan digunakan Baik itu operating system yang mendukung atau software-software khusus pendukung Firewall seperti ipchains, atau iptables pada linux, dsb. Serta konfigurasi hardware yang akan mendukung Firewall tersebut. Melakukan test konfigurasi Pengujian terhadap Firewall yang telah selesai di bangun haruslah dilakukan, terutama untuk mengetahui hasil yang akan diharapkan, caranya dapat menggunakan tools yang biasa dilakukan untuk mengaudit seperti nmap.

Bastion Host adalah sistem/bagian yang dianggap tempat terkuat dalam system keamanan Network oleh administrator atau dapat di sebuah bagian terdepan yang dianggap paling kuat dalam menahan serangan, sehingga menjadi bagian terpenting dalam pengamanan jaringan, biasanya merupakan komponen Firewall atau bagian terluar sistem publik. Umumnya Bastion host akan menggunakan Sistem operasi yang dapat menangani semua kebutuhan (misal , Unix, linux, NT).

Continue Reading...

Organisasi File dalam Arsitektur Sistem Berkas

Organisasi File adalah suatu teknik atau cara yang digunakan menyatakan dan menyimpan record–record dalam sebuah file. Penyimpanan ataupun penulisan character demi character yang ada didalam external memory, harus diatur sedemikian rupa sehingga komputer bisa dengan mudah menemukan kembali data-data yang tersimpan didalamnya. Aturan inilah yang kemudian dikenal sebagai organisasi file. Dalam hal ini, dikenal ada beberapa metoda, yaitu: Sequential File, Random File dan Index Sequential File.


Sequential file merupakan suatu cara ataupun suatu metode penyimpanan dan pembacaan data yang dilakukan secara berurutan. Dalam hal ini, data yang ada akan disimpan sesuai dengan urutan masuknya. Data pertama dengan nomor berapapun, akan disimpan ditempat pertama, demikian pula dengan data berikutnya yang juga akan disimpan ditempat berikutnya.

Dalam melakukan pembacaan data, juga akan dilakukan secara berurutan, artinya, pembacaan akan dimulai dari data paling awal dan dilanjutkan dengan data berikutnya sehingga data yang dimaksud bisa diketemukan.

Keuntungan Sequential File
Merupakan organisasi file yang sederhana. Jarak setiap aplikasi yang tersimpan sangat jelas. Metode penyimpanan didalam memory sangat sederhana, sehingga efisien untuk menyimpan record yang besar. Sangat murah untuk digunakan, sebab medianya cukup menggunakan magnetic tape.

Kerugian Sequential File
Seandainya diperlukan perubahan data, maka seluruh recordyang tersimpan didalam master file, harus semuanya diproses. Data yang tersimpan harus sudah urut (sorted). Posisi data yang tersimpan sangat susah untuk up-to-date, sebab master file hanya bisa berubah saat proses selesai dilakukan. Tidak bisa dilkukan pembacaan secara langsung.

Random file merupakan suatu cara ataupun suatu metode penyimpanan dan pembacaan data yang dilakukan secara random atau langsung. Dengan demikian, random file juga disebut sebagai Direct Access File (Bisa dibaca secara langsung). Dalam hal ini, tempat penyimpanan data sudah diatur sedemikian rupa, sehingga setiap data akan tersimpan didalam tempat-tempat yang telah ditentukan sesuai dengan nomor data yang dimiliki-nya.

Dikarenakan data yang tersimpan menggunakan teknik yang sedemikian rupa (yaitu random), maka data yang dibutuhkan bisa langsung ditemukan tanpa harus membaca data-data sebelumnya. Walaupun demikian, seandainya diperlukan untuk dibaca secara berurutan, juga dimungkinkan.


Apabila lagu-lagu yang ada kemudian disimpan didalam compack-disk, maka untuk mendengar kan lagu yang ke-lima bisa langsung dilakukan (dibaca secara random). Disamping itu, dengan compact-disk juga bisa dilakukan pembacaan secara berurutan atau Sequential. Compact-disk menyimpan lagu secara random.

Keuntungan Random File
Sangat sesuai untuk kebutuhan File Transaksi, sebab transaksi harus diproses saat kejadian berlangsung. Data yang tersimpan tidak harus urut (sorted). Untuk pemrosesan lebih efisien, sebab ada beberapa file yang memerlukan perubahan saat proses berlangsung. Lebih cepat dalam hal pemanggilan data. Beberapa data yang tersimpan didalam file, bisa diperbaiki dalam waktu bersamaan.

Kerugian Random file
Memerlukan adanya back-ap data. Sebab transaksi yang diperbaiki setiap saat bisa menghilangkan jejak data asal. Data yang tersimpan mempunyai potensi lebih cepat rusak. Kapasitas media penyimpanan memory menjadi besar. Memerlukan hardware dan software yang lebih kompleks apabila dibanding Sequential file.

Index Sequential File merupakan perpaduan terbaik dari teknik Sequential dan random file. Teknik penyimpanan yang dilakukan, menggunakan suatu index yang isinya berupa bagian dari data yang sudah tersortir. Index ini diakhiri denga adanya suatu pointer (penunjuk) yang bisa menunjukkan secara jelas posisi data yang selengkapnya. Index yang ada juga merupakan record-key (kunci record), sehingga kalau recordkey ini dipanggil, maka seluruh data juga akan ikut terpanggil.

Untuk membayangkan penyimpanan dan pembacaan data secara Sequential, kita bisa melihat rekaman lagu yang tersimpan pada kaset. Untuk mendengarkan lagu kelima, kita harus melalui lagu kesatu, dua, tiga dan empat terlebih dahulu. Pembacaan seperti inilah yang disebut sebagai Sequential atau berurutan.

Untuk membayangkan penyimpanan data dengan menggunakan teknik index Sequential ini, kita bisa melihat daftar isi pada sebuah buku. Pada bagian disebelah kiri disebut sebagai index data yang berisi bagian dari data yang ada. Index data kemudian diakhiri dengan pointer yang menunjukkan posisi keseluruhan isi data.

Sebuah data yang terdiri Nomor, Nama, NL1, Nl2, dan NL3 bisa disimpan dengan menggunakan Nomor sebagai Index. Apabila data tersebut dicetak, maka akan dihasilkan suatu data yang berurutan berdasar Nomor. Nomor yang ada akan tersusun dengan urutan dari kecil keurutan yang lebih besar.

Dari data yang ada, juga bisa dibuat Nama sebagai Index. Apabila data tersebut dicetak, maka akan dihasilkan suatu data yang berurutan berdasar Nama. Nama yang ada akan tersusun dengan urutan dari kecil keurutan yang lebih besar. Peluang yang memiliki abjad terkecil, akan menempati posisi pertama dan Rino pada posisi terakhir.

Gambar yang ada menunjukkan bagaimana record data nilai disimpan didalam media disk ataupun disket dengan menggunakan teknik index Sequential. Index data akan dibaca pertama kali oleh komputer, dan dikarenakan didalam index data juga terdapat address maka data yang dicari bisa segera diketemukan.

Sesuai dengan sifat media yang dimilikinya, maka pada sebuah pita magnetic tape, hanya bisa menyimpan data secara Sequential; Dengan demikian, cara pembacaan yang dilakukan juga hanya secara Sequential, yaitu berurutan satu persatu sampai nomor record yang dikehendaki diketemukan.

Dengan menggunakan Direct Access Methode (metode pembacaan/penulisan secara langsung), maka, recordyang tersimpan didalam sebuah disket, Hard-disk, CD ROM ataupun Laser-Disk dapat di-access secara langsung dengan tanpa harus membaca seluruh data yang dimilikinya.

Access dengan menggunakan methoda Index-Sequential juga dapat dilakukan oleh media ini. Dengan melakukan access pertama kali pada key-field yang ada, maka akan diketemukan recordyang dituju.

Data yang sudah terekam dalam methoda index-Sequential juga dapat dilakukan pembacaan secara Sequential. Key-field akan dibaca pertama kali secara Sequential, dan untuk selanjutnya recordyang dituju akan diketemukan.

Keuntungan Index Sequential File
Sangat cocok untuk digunakan menyimpan batch data ataupun individual data. Dibanding Sequential file, pemanggilan data menjadi lebih cepat.

Kerugian Index Sequential File
Access (pemanggilan) data tidak bisa disamakan dengan random (direct access file). Memerlukan adanya ruangan extra didalam memory untuk menyimpan index data. Memerlukan adanya hardware dan software yang lebih kompleks.

Secara umum ketiga teknik dasar/ metoda - metoda tersebut berbeda dalam cara pengaksesannya, yaitu Direct Access dan Sequential Access. Direct Access adalah suatu cara pengaksesan recordyang langsung, tanpa mengakses seluruh recordyang ada, contoh Magnetic Disk. Sequential Access adalah suatu cara pengaksesan record, yang didahului pengaksesan record– recorddi depannya contoh Magnetic Tape.

Faktor–faktor yang mempengaruhi dalam proses pemilihan organisasi file yaitu Karakteristik dari penyimpanan yang digunakan, Volume dan frekuensi dari transaksi yang diproses, Respontime yang diperlukan. Cara memilih organisasi file tidak terlepas dari 2 aspek utama, yaitu Model penggunaannya dan Model operasi file.

Menurut penggunaannya ada 2 cara Batch Suatu proses yang dilakukan secara group atau kelompok. Interactive. Suatu proses yang dilakukan secara satu persatu, yaitu recorddemi record.

Menurut Operasi file ada cara Creation Membuat struktur file lebih dahulu, menentukan banyak record baru, kemudian record– recorddimuat kedalam file tersebut dan Membuat file dengan cara merekam recorddemi record. Update untuk menjaga agar file tetap up to date dan Insert / Add, Modification, deletion. Retrieval Pengaksesansebuah file dengan tujuan untuk mendapatkan informasi. Inquiry, Volume data rendah, model proses interactive.Report Generation Volume Data Tinggi, model proses batch. File Retrieval terbagi menjadi 2, yaitu Comprehensive Retrieval Mendapatkan informasi dari semua recorddalam sebuah file. Contoh :* Display all, * List nama, alamat. Selective Retrieval Mendapatkan informasi dari record– record tertentu berdasarkan persyaratan tertentu. Contoh : * List for gaji = 100000 * List nama. Npm, for angkatan = 93

Maintenance Perubahan terhadap file dengan tujuan memperbaiki penampilan program dalam mengakses file tersebut. Restucturing Perubahan struktur file misalnya Panjang file diubah, penambahan file baru, panjang recorddi rubah. Reorganizaion Perubahan organisasi file yang satu, menjadi organisasi file yang lain. Misalnya dari organisai file Sequential menjadi indeks Sequential, dari direct menjadi Sequential.

Secara umum dapat disimpulkan untuk master file dan program file kita dapat melakukan created, update, retrieval from dan maintenanced. Untuk work file kita dapat melakukan created, update, retrieval from tapi tidak dapat kita maintenanced. Untuk report file umumnya tidak di update, retrieve from atau maintenanced. Untuk transaction file, umumnya hanya dapat di created dan digunakan untuk sekali proses.

Sistem File Sebuah sistem file sangat membantu para programmer untuk memungkinkan mereka megakses file, tanpa memperhatikan detail dari karakteristik dan waktu penyimpanan. Sisstem file ini juga yang mengatur direktori, device access dan buffer.

Tugas dari sistem file Memelihara direktori dari identifikasi file dan lokasi informasi, Menentukan jalan/pathway bagi aliran data antara main memory dan alat penyimapn sekunder, Mengkoordibasi komunikasi antara CPU dan alat penyimpan sekunder dan sebaliknya, Menyiapkan file penggunaan input atau output, Mengatur file, bila penggunaan input atau output telah selesai.


Margaretha Fajar dan Anita Octasia
(margaretha_fajar@yahoo.com)

Continue Reading...

Enkripsi Security Data pada Personal Computer dan Network

Salah satu hal yang penting dalam komunikasi menggunakan computer untuk menjamin kerahasian data adalah Enkripsi. Enkripsi dalah sebuah proses yang melakukan perubahan sebuah kode dari yang bisa dimengerti menjadi sebuah kode yang tidak bisa dimengerti (tidak terbaca). Enkripsi dapat diartikan sebagai kode atau chiper. Sebuah sistem pengkodean menggunakan suatu table atau kamus yang telah didefinisikan untuk mengganti kata dari informasi atau yang merupakan bagian dari informasi yang dikirim. Sebuah chiper menggunakan suatu algoritma yang dapat mengkodekan semua aliran data (stream) bit dari sebuah pesan menjadi cryptogram yang tidak dimengerti (unitelligible). Karena teknik cipher merupakan suatu sistem yang telah siap untuk di automasi, maka teknik ini digunakan dalam sistem keamanan komputer dan network.


Internet memberikan tantangan-tantangan baru di dalam keamanan informasi, khususnya untuk organisasi-organisasi yang ingin melakukan e-business. Banyak tantangan-tantangan keamanan ini ditangani dengan mekanisme keamanan tradisional seperti Autentikasi user untuk mengenali user, Kontrol akses yang granular untuk membatasi apa yang user bisa lihat dan lakukan., Auditing untuk akuntabilitas, Enkripsi jaringan untuk melindungi kerahasiaan data yang sensitif pada saat transmisi data

Enkripsi adalah komponen penting dari solusi-solusi di atas. Sebagai contoh, Secure Sockets Layer (SSL), sebuah protokol Enkripsi jaringan berstandar Internet dan autentikasi, menggunakan Enkripsi untuk meng-auntentifikasi user secara kuat, melalui X.509 digital certificate. SSL juga menggunakan Enkripsi untuk memastikan kerahasiaan data. Banyak penggunaan Enkripsi ini secara relatif transparan pada user atau aplikasi. Sebagai contoh, banyak browsers sekarang ini yang mendukung SSL, dan user biasanya tidak perlu melakukan hal tertentu untuk menjalankan Enkripsi SSL.

Walaupun Enkripsi bukan solusi total untuk keamanan, Enkripsi merupakan tool yang digunakan untuk menangani ancaman-ancaman keamanan yang spesifik dan akan menjadi semakin penting dengan meningkatnya pertumbuhan e-business, khususnya di area Enkripsi data yang tersimpan. Sebagai contoh, walaupun nomor kartu kredit biasanya dilindungi ketika dikirim ke suatu situs web dengan menggunakan SSL, nomor kartu kredit biasanya disimpan pada keadaan clear (tidak terEnkripsi), antara berada di file system, dimana rentan kepada siapa saja yang bisa menerobos ke host dan memperoleh akses root, atau di database. Sementara database bisa dibuat cukup aman dengan konfigurasi yang sesuai, database juga bisa rentan terhadap pelaku peneroboson host jika host tidak dikonfigurasi dengan baik. Ada beberapa kasus, dimana seorang hacker berhasil memperoleh daftar panjang nomor-nomor kartu kredit dengan menerobos masuk ke sebuah database.

Enkripsi pada data yang tersimpan mewakili tantangan baru dalam Ee-business dan bisa menjadi tool yang penting dalam penanganan tipe-tipe yang spesifik dari ancaman-ancaman keamanan. Kegunaan sebuah enskripsi sangatlah penting untuk keamanan data pada komputer dan jaringan baik dibidang pendidikan atau bisnis

Sejarah Enkripsi Enkripsi dilaporkan sudah ada sejak zaman dahulu, dimana jenderal-jenderal bangsa Sparta menulis pesan-pesan mereka pada perkamen yang dililitkan pada sebuah silinder yang tipis. Ketika perkamen dilepas dari silindernya, pesan-pesan yang ditulis muncul sebagai huruf-huruf yang urutannya tidak mempunyai arti atau acak dan hanya bisa dibaca dengan melilit perkamen tersebut pada silinder dengan ukuran yang sama ketika penulisannya. Pada saat abad ke 5 SM, seorang berbangsa Yunani yang bekerja pada kerajaan Persia mengirim sebuah pesan ke Yunani agar melakukan pembunuhan. Pesannya dikirim dengan cara men-tatonya pada kepala budaknya yang dipercaya. Ketika rambut pada kepala budak itu tumbuh kembali, tidak ada indikasi bahwa sebuah pesan telah dibawa. Metoda-metode jenis ini terus digunakan sampai Perang Dunia I, ketika agen-agen dikirim melewati garis pertahanan musuh dengan pesan-pesan ditulis pada kulit mereka dengan tinta yang tak kelihatan.

Enkripsi Konvensional
Proses Enkripsi ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Plain teks -> Algoritma Enkripsi -> Cipher teks ->Algoritma Dekrispsi -> Plain teks
User A | | User B
|----------------------Kunci (Key) --------------------|
Gambar 1

Informasi asal yang dapat di mengerti di simbolkan oleh Plain teks, yang kemudian oleh algoritma Enkripsi diterjemahkan menjadi informasi yang tidak dapat untuk dimengerti yang disimbolkan dengan cipher teks. Proses Enkripsi terdiri dari dua yaitu algoritma dan kunci. Kunci biasanya merupakan suatu string bit yang pendek yang mengontrol algoritma. Algoritma Enkripsi akan menghasilkan hasil yang berbeda tergantung pada kunci yang digunakan. Mengubah kunci dari Enkripsi akan mengubah output dari algortima Enkripsi.
Sekali cipher teks telah dihasilkan, kemudian ditransmisikan. Pada bagian penerima selanjutnya cipher teks yang diterima diubah kembali ke plain teks dengan algoritma dan dan kunci yang sama. Keamanan dari Enkripsi konvensional bergantung pada beberapa faktor. Pertama algoritma Enkripsi harus cukup kuat sehingga menjadikan sangat sulit untuk mendekripsi cipher teks dengan dasar cipher teks tersebut. Lebih jauh dari itu keamanan dari algoritma Enkripsi konvensional bergantung pada kerahasian dari kuncinya bukan algoritmanya. Yaitu dengan asumsi bahwa adalah sangat tidak praktis untuk mendekripsikan informasi dengan dasar cipher teks dan pengetahuan tentang algoritma diskripsi / Enkripsi. Atau dengan kata lain, kita tidak perlu menjaga kerahasiaan dari algoritma tetapi cukup dengan kerahasiaan kuncinya.

Manfaat dari konvensional Enkripsi algoritma adalah kemudahan dalam penggunaan secara luas. Dengan kenyataan bahwa algoritma ini tidak perlu dijaga kerahasiaannya dengan maksud bahwa pembuat dapat dan mampu membuat suatu implementasi dalam bentuk chip dengan harga yang murah. Chips ini dapat tersedia secara luas dan disediakan pula untuk beberapa jenis produk. Dengan penggunaan dari Enkripsi konvensional, prinsip keamanan adalah menjadi menjaga keamanan dari kunci.

Model Enkripsi yang digunakan secara luas adalah model yang didasarkan pada data encrytion standard (DES), yang diambil oleh Biro standart nasional US pada tahun 1977. Untuk DES data di Enkripsi dalam 64 bit block dengan menggunakan 56 bit kunci. Dengan menggunakan kunci ini, 64 data input diubah dengan suatu urutan dari metode menjadi 64 bit output. Proses yang yang sama dengan kunci yang sama digunakan untuk mengubah kembali Enkripsi.

Enkripsi Public-Key Salah satu yang menjadi kesulitan utama dari Enkripsi konvensional adalah perlunya untuk mendistribusikan kunci yang digunakan dalam keadaan aman. Sebuah cara yang tepat telah diketemukan untuk mengatasi kelemahan ini dengan suatu model Enkripsi yang secara mengejutkan tidak memerlukan sebuah kunci untuk didistribusikan. Metode ini dikenal dengan nama Enkripsi public-key dan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976.

Plain teks -> Algoritma Enkripsi -> Cipher teks -> Algoritma Dekrispsi -> Plain teks
User A | | User B
Private key B ----|
|----------------------Kunci (Key) --------------------|
Gambar 2

Algoritma tersebut seperti yang digambarkan pada gambar diatas. Untuk Enkripsi konvensional, kunci yang digunakan pada prosen Enkripsi dan dekripsi adalah sama. Tetapi ini bukanlah kondisi sesungguhnya yang diperlukan. Namun adalah dimungkinkan untuk membangun suatu algoritma yang menggunakan satu kunci untuk Enkripsi dan pasangannya, kunci yang berbeda, untuk dekripsi. Lebih jauh lagi adalah mungkin untuk menciptakan suatu algoritma yang mana pengetahuan tentang algoritma Enkripsi ditambah kunci Enkripsi tidak cukup untuk menentukan kunci dekrispi. Sehingga teknik berikut ini akan dapat dilakukan. Masing - masing dari sistem dalam network akan menciptakan sepasang kunci yang digunakan untuk Enkripsi dan dekripsi dari informasi yang diterima. Masing - masing dari sistem akan menerbitkan kunci Enkripsinya (public key) dengan memasang dalam register umum atau file, sedang pasangannya tetap dijaga sebagai kunci pribadi (private key). Jika A ingin mengisim pesan kepada B, maka A akan mengEnkripsi pesannya dengan kunci publik dari B. Ketika B menerima pesan dari A maka B akan menggunakan kunci privatenya untuk mendeskripsi pesan dari A.

Seperti yang kita lihat, public-key memecahkan masalah pendistribusian karena tidak diperlukan suatu kunci untuk didistribusikan. Semua partisipan mempunyai akses ke kunci publik ( public key ) dan kunci pribadi dihasilkan secara lokal oleh setiap partisipan sehingga tidak perlu untuk didistribusikan. Selama sistem mengontrol masing - masing private key dengan baik maka komunikasi menjadi komunikasi yang aman. Setiap sistem mengubah private key pasangannya public key akan menggantikan public key yang lama. Yang menjadi kelemahan dari metode Enkripsi publik key adalah jika dibandingkan dengan metode Enkripsi konvensional algoritma Enkripsi ini mempunyai algoritma yang lebih komplek. Sehingga untuk perbandingan ukuran dan harga dari hardware, metode publik key akan menghasilkan performance yang lebih rendah.

Enkripsi Konvensional yang dibutuhkan untuk bekerja Algoritma yang sama dengan kunci yang sama dapat digunakan untuk proses dekripsi - Enkripsi. Pengirim dan penerima harus membagi algoritma dan kunci yang sama. Yang dibutuhkan untuk keamanan yaitu Kunci harus dirahasiakan. Adalah tidak mungkin atau sangat tidak praktis untuk menerjemahkan informasi yang telah diEnkripsi. Pengetahuan tentang algoritma dan sample dari kata yang terEnkripsi tidak mencukupi untu menentukan kunci

Kriptografi Kriptografi, secara umum adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan berita (Bruce Schneier - Applied Cryptography). Selain pengertian tersebut terdapat pula pengertian ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi seperti kerahasiaan data, keabsahan data, integritas data, serta autentikasi data (A. Menezes, P. van Oorschot and S. Vanstone - Handbook of Applied Cryptography). Tidak semua aspek keamanan informasi ditangani oleh Kriptografi.

Ada empat tujuan mendasar dari ilmu Kriptografi ini yang juga merupakan aspek keamanan informasi yaitu Kerahasiaan, adalah layanan yang digunakan untuk menjaga isi dari informasi dari siapapun kecuali yang memiliki otoritas atau kunci rahasia untuk membuka/mengupas informasi yang telah disandi. Integritas data, adalah berhubungan dengan penjagaan dari perubahan data secara tidak sah. Untuk menjaga integritas data, sistem harus memiliki kemampuan untuk mendeteksi manipulasi data oleh pihak-pihak yang tidak berhak, antara lain penyisipan, penghapusan, dan pensubsitusian data lain kedalam data yang sebenarnya. Autentikasi, adalah berhubungan dengan identifikasi/pengenalan, baik secara kesatuan sistem maupun informasi itu sendiri. Dua pihak yang saling berkomunikasi harus saling memperkenalkan diri. Informasi yang dikirimkan melalui kanal harus diautentikasi keaslian, isi datanya, waktu pengiriman, dan lain-lain. Non-repudiasi, atau nirpenyangkalan adalah usaha untuk mencegah terjadinya penyangkalan terhadap pengiriman/terciptanya suatu informasi oleh yang mengirimkan/membuat.

Cryptosystem Cryptographic system atau Cryptosystem adalah suatu fasilitas untuk mengkonversikan Plaintext ke Ciphertext dan sebaliknya. Dalam sistem ini, seperangkat parameter yang menentukan transformasi pen-cipher-an tertentu disebut suatu set kunci. Proses Enkripsi dan dekripsi diatur oleh satu atau beberapa kunci Kriptografi.

Karakteristik Cryptosystem yang baik yaitu Keamanan sistem terletak pada kerahasiaan kunci dan bukan pada kerahasiaan algoritma yang digunakan. Crypto system yang baik memiliki ruang kunci (keyspace) yang besar. Cryptosystem yang baik akan menghasilkan Ciphertext yang terlihat acak dalam seluruh tes statistik yang dilakukan terhadapnya.Cryptosystem yang baik mampu menahan seluruh serangan yang telah dikenal sebelumnya.

Symmetric Cryptosystem
Dalam Symmetric Cryptosystemini, kunci yang digunakan untuk proses Enkripsi dan dekripsi pada prinsipnya identik, tetapi satu buah kunci dapat pula diturunkan dari kunci yang lainnya. Kunci-kunci ini harus dirahasiakan. Oleh karena itulah sistem ini sering disebut sebagai secret-key ciphersystem.

Asymmetric Cryptosystem
Dalam Asymmetric Cryptosystem ini digunakan dua buah kunci. Satu kunci yang disebut kunci publik (public key) dapat dipublikasikan, sedang kunci yang lain yang disebut kunci privat (private key) harus dirahasiakan. Proses menggunakan sistem ini dapat diterangkan secara sederhana sebagai berikut:

Bila A ingin mengirimkan pesan kepada B, A dapat menyandikan pesannya dengan menggunakan kunci publik B, dan bila B ingin membaca surat tersebut, ia perlu mendekripsikan surat itu dengan kunci privatnya. Dengan demikian kedua belah pihak dapat menjamin asal surat serta keaslian surat tersebut, karena adanya mekanisme ini.

Protocol Cryptosystem
Cryptographic Protocol adalah suatu protokol yang menggunakan Kriptografi. Protokol ini melibatkan sejumlah algoritma Kriptografi, namun secara umum tujuan protokol lebih dari sekedar kerahasiaan. Pihak-pihak yang berpartisipasi mungkin saja ingin membagi sebagian rahasianya untuk menghitung sebuah nilai, menghasilkan urutan random, ataupun menandatangani kontrak secara bersamaan. Penggunaan Kriptografi dalam sebuah protokol terutama ditujukan untuk mencegah ataupun mendeteksi adanya eavesdropping dan cheating.

Metode Cryptografi
475 S.M. bangsa Sparta, suatu bangsa militer pada jaman Yunani kuno, menggunakan teknik Kriptografi yang disebut Scytale, untuk kepentingan perang. Scytale terbuat dari tongkat dengan papyrus yang mengelilinginya secara spiral. Kunci dari Scytale adalah diameter tongkat yang digunakan oleh pengirim harus sama dengan diameter tongkat yang dimiliki oleh penerima pesan, sehingga pesan yang disembunyikan dalam papyrus dapat dibaca dan dimengerti oleh penerima.

Julius Caesar, seorang kaisar terkenal Romawi yang menaklukkan banyak bangsa di Eropa dan Timur Tengah juga menggunakan suatu teknik Kriptografi yang sekarang disebut Caesar Cipher untuk berkorespondensi sekitar tahun 60 S.M. Teknik yang digunakan oleh Sang Caesar adalah mensubstitusikan alfabet secara beraturan, yaitu oleh alfabet ketiga yang mengikutinya, misalnya, alfabet “A” digantikan oleh “D”, “B” oleh “E”, dan seterusnya. Dengan aturan yang dibuat oleh Julius Caesar tersebut, pesan sebenarnya adalah “Penjarakan panglima divisi ke tujuh segera”.

Teknik Dasar Criptogtafi
Substitusi
Salah satu contoh teknik ini adalah Caesar Cipher yang telah dicontohkan diatas. Langkah pertama adalah membuat suatu tabel substitusi. Tabel substitusi dapat dibuat sesuka hati, dengan catatan bahwa penerima pesan memiliki tabel yang sama untuk keperluan dekripsi. Bila tabel substitusi dibuat secara acak, akan semakin sulit pemecahan Ciphertext oleh orang yang tidak berhak.

A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V-W-X-Y-Z-1-2-3-4-5-6-7-8-9-0-.-,
B-F-1-K-Q-G-A-T-P-J-6-H-Y-D-2-X-5-M-V-7-C-8-4-I-9-N-R-E-U-3-L-S-W-,-.-O-Z-0
Gambar 1. Tabel Substitusi

Tabel substitusi diatas dibuat secara acak. Dengan menggunakan tabel tersebut, dari Plaintext “5 teknik dasar Kriptografi” dihasilkan Ciphertext “L 7Q6DP6 KBVBM 6MPX72AMBGP”. Dengan menggunakan tabel substitusi yang sama secara dengan arah yang terbalik (reverse), Plaintext dapat diperoleh kembali dari Ciphertext-nya.

Blocking
Sistem Enkripsi terkadang membagi Plaintext menjadi blok-blok yang terdiri dari beberapa karakter yang kemudian diEnkripsikan secara independen.
Dengan menggunakan Enkripsi blocking dipilih jumlah lajur dan kolom untuk penulisan pesan. Jumlah lajur atau kolom menjadi kunci bagi Kriptografi dengan teknik ini. Plaintext dituliskan secara vertikal ke bawah berurutan pada lajur, dan dilanjutkan pada kolom berikutnya sampai seluruhnya tertulis. Ciphertext-nya adalah hasil pembacaan Plaintext secara horizontal berurutan sesuai dengan blok-nya. Jadi Ciphertext yang dihasilkan dengan teknik ini adalah “5K G KRTDRAEAIFKSPINAT IRO”. Plaintext dapat pula ditulis secara horizontal.

Continue Reading...

19 March 2009

Instalasi Network dalam Linux

Hampir semua distribusi Linux yang ada di pasaran menawarkan fasilitas Network yang sudah stabil, beberapa distribusi seperti Red Hat juga menyertakan beberapa tools yang membantu dalam melakukan konfigurasi Network sehingga menjadi lebih mudah. Setiap mesin yang terhubung ke dalam jaringan TCP/IP (Protocol utama yang digunakan dalam Linux) memiliki sebuah alamat unik yang disebut dengan IP (Internet Protocol) sehingga sebuah mesin dapat menemukan mesin lainnya dalam Network tersebut.

Saat ini banyak sekali jenis distribusi Linux yang ada di pasar Software, jika dijumlahkan, kira-kira ada lebih dari 300 macam distribusi Linux mulai dari yang besar sampai yang kecil, mulai dari yang umum sampai yang memiliki fungsi khusus. Hal ini seringkali membuat bingung bagi pengguna yang ingin mencoba untuk mulai mempelajari Linux, distribusi mana yang paling baik? Distribusi mana yang paling cocok untuk digunakan?



Dalam kategori ini adalah distribusi-distribusi yang sudah memiliki banyak pengguna dan distribusinya bersifat umum. Beberapa distribusi yang termasuk kategori ini adalah sebagai berikut:
  1. ASP Linux, merupakan distibusi yang berbasis RPM, RPM adalah sistem pemaketan Software milik distribusi Red Hat. Saat ini ASP Linux sudah mencapai versi 9.2 yang diluncurkan pada tanggal 25 Februari 2004.
  2. Conectiva Linux, Distribusi ini berasal dari Brazil, versi resmi terakhir adalah Conectiva Linux 9 dan Conectiva Linux Enterprise Edition. Pada bulan Maret 2004, Conectiva Linux 10 beta 2 tersedia.
  3. Debian GNU/Linux, Debian merupakan distribusi berdasar komunitas yang memiliki komunitas yang besar, saat ini Debian sudah mencapai versi 3.0r2.
  4. Fedora, Setelah Red Hat menghentikan dukungannya terhadap distribusinya, maka Fedora diluncurkan untuk menggantikan posisi distibusi tersebut. Sampai saat ini distribusi Fedora telah mencapai Fedora Core 2 yang diluncurkan pada tanggal 18 Mei 2004.
  5. Gentoo Linux, Distribusi ini ditujukan untuk profesional di bidang jaringan, didistribusikan dalam bentuk Source dan baru dikompilasi pada saat instalasi. Pada saat ini Gentoo sudah mencapai versi 1.4 yang diluncurkan pada tanggal 5 Agustus 2003.
  6. Mandrake Linux, merupakan distribusi yang populer dan paling banyak digunakan di Indonesia, pada awalnya distribusi ini dikembangkan dari distribusi Red Hat, tetapi pada perkembangannya, Mandrake berkembang sendiri menjadi distribusi yang lain dari distribusi asalnya. Saat ini Mandrake sudh mencapai versi 10.0 yang diluncurkan dan dapat didownload oleh publik pada tanggal 25 Mei 2004.
  7. Red Hat, merupakan salah satu distribusi terbaik yang pernah ada, pada tahun 2003, Red Hat Inc., menghentikan distribusi ini untuk dapat lebih berkensentrasi pada produk Red Hat Enterprise Linux nya. Sejak saat itu, distribusi Red Hat digantikanoleh Fedora. Versi terakhir ini adalah versi 9.
  8. Rock Linux, Distribusi ini dapat digunakan sebagai landasan untuk membuat distribusi baru. Rock dapat dimodifikasi sesuai dengan keinginan untuk mendapatkan distibusi yang dinginkan. Versi terakhir adalah 2.01 yang diluncurkan pada tanggal 26 Mei 2004.
  9. Slackware, distribusi yang berdasarkan komunitas, artinya tidak ada perusahaan yang mendukung distribusi ini. Distribusi ini merupakan distribusi yang paling tua yang ada di pasaran. Sampai saat ini Slackware sudah mencapai versi 9.1 yang muncul pada tanggal 26 September 2003.
  10. SuSE Linux, berasal dari Jerman, saat ini perusahaan yang memproduksi distribusi ini dibeli oleh Novell (12 Januari 2004). SuSE Linux difokuskan pada integrasinya dengan KDE, Ximian dan didukung kuat oleh IBM supaya distribusi ini mudah untuk diintegrasikan dengan Hardware milik IBM. Saat ini distribusi sudah mencapai versi 9.1 yang muncul pada tanggal 11 Mei 2004.
  11. Turbolinux, mendukung banyak platform dan bahasa-bahasa asia. Pada tanggal 15 Maret 2004 Turbolinux resmi dimiliki oleh Livedoor, sebuah ISP besar di Jepang. Versi terakhirnya, Turbolinux 10 Desktop diluncurkan pada tanggal 2 Oktober 2004.
Distribusi mana yang paling baik? Itu tergantung dari selera pemakainya masing-masing, mulailah mencoba dari beberapa distribusi besar yang memiliki komunitas yang besar sehingga jika ada kesulitan, akan lebih mudah untuk meminta pertolongan. Jangan ragu-ragu untuk mencoba dan untuk berganti-ganti distrubusi.

Continue Reading...